
Jika merasa sulit untuk bahagia, hasil penelitian terbaru ilmu genetika barangkali bisa sedikit melegakan. Sekitar 50% kebahagiaan ditimbulkan dari situasi seperti kesehatan, hubungan antarmanusia, dan karir.
Sebanyak 50% lainnya disumbang oleh faktor genetika. Ruang kebahagiaan yang membekali manusia itu seolah-olah disediakan sebagai penawar jika sewaktu-waktu yang bersangkutan berada pada kondisi tertekan.
Penelitian berlangsung selama 15 tahun dipimpin oleh Dr Timothy Bates dan koleganya dari Universitas Edinburg melibatkan 900 kembar identik (berasal dari satu telur) dan nonidentik (kembar dari dua telur).
Penelitian didesain untuk 'mengorek' kepribadian dan membandingkannya, karena kembar identik mempunyai gen yang sama, sedangkan kembar nonidentik memiliki gen berbeda.
Menurut para peneliti dari kondisi para kembar itu dapat dipetakan pengaruh genetika terhadap kepribadian seseorang dan perilakunya dalam meraih kebahagiaan.
"Mencari kebahagiaan, hidup yang berarti dan kebebasan adalah keinginan dasar manusia," kata Dr Bates dalam rilisnya.
Walaupun kebahagiaan adalah subyek yang mendapat pengaruh luar, hasil penelitian ini menemukan komponen kebahagiaan yang secara keseluruhan dapat diterangkan dengan susunan genetika. Namun demikian temuan ini tidak otomatis memvonis orang yang tidak memiliki gen bahagia akan hidup sengsara.
Sejak awal penelitian ini ditujukan untuk menemukan faktor apa yang bisa membuat seseorang berbahagia.
Pada partisipan penelitian diberikan lima hal yang harus dilakukan selama satu minggu. Segera setelah mereka mampu melakukannya, skor kebahagiaan bergerak naik. Namun jika mereka tidak bisa, perolehan angka menurun.
Pada partisipan kembar identik terlihat kesamaan grafik, hal yang tidak ditemukan pada mereka yang berbeda genetik.
Seperti kata Dr Bates, orang-orang yang aktif secara fisik dan sosial mempunyai kecenderungan lebih bahagia sehingga METODE INI BISA DIPAKAI UNTUK BERLATIH MEMUNCULKAN RASA BAHAGIA PADA ORANG-ORANG MEMPUNYAI KECENDERUNGAN TERTUTUP.
Penelitian yang dimuat di jurnal Psychological Science itu memberikan jawaban terhadap pertanyaan umum yakni apakah uang memberikan kebahagiaan. Dari hasil studi selama 20 tahun lebih memperlihatkan bahwa orang kaya tidak lebih bahagia daripada orang miskin.
Bahkan orang yang memiliki kemampuan fisik terbatas sekalipun mampu untuk lebih bahagia. Ini berkaitan erat dengan cadangan 50% kebahagiaan yang akan tetap stabil untuk menghadapi berbagai situasi.
Penelitian itu juga memperlihatkan kebahagiaan erat kaitannya dengan tanggungjawab dan pencapaian. Cara untuk mencapai dan mempertahankan kebahagiaan, simpul Dr Bates, luar biasa mengejutkan.
Hal-hal sederhana seperti menyebarkan rasa kemanusiaan, bekerja dan melakukan sesuatu yang diinginkan, menghitung rahmat dan kenikmatan yang telah diperoleh, aktif secara sosial dan menjadi bagian dari komunitas memberikan sumbangan yang tak terkira.(rfa)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar