Orang Madura di Hotel
Adalah sebuah cerita tentang seorang madura yang kaya raya pergi ke suatu tempat dan menginap di sebuah hotel yang mewah. Sebelum tidur malam ia memanggil pelayan hotel untuk pesan sarapan agar besok pagi dia tidak perlu repot.
Orang Madura (OM): Pelayan saya mau pesan sarapan untuk besok pagi ya, tolong dicatat, saya minta diantar di kamar saya jam 6 pagi, jangan telat ya sebab saya ada rapat.
Pelayan (P): Mau pesan apa Tuan?
OM: Saya mau pesan bret jembret.
P: Apa Tuan???
OM: Bret jembret!!!
P: Maaf Tuan apa itu bret jembret???
OM: Sampeyan ini gimana sih, jadi pelayan hotel terkenal kok bego. Anda bisa bahasa inggris nggak ?? Bahasa inggrisnya roti apa??
P: Bread Tuan.
OM: Nah sekarang bahasa inggrisnya selai apa???
P: Jam Tuan.
OM: Lah itu kalau roti dikasih selai terus atasnya dikasih roti lagi apa nggak bread jam bread tak iyah… doh sampeyan ini gimana sih!!!
P: Ooooooooooh itu Tuan. Lalu minumnya apa Tuan??
OM: Susu soda!!!
P: Pakai es Tuan???
OM: Lho lha iya pakai es dong, kalo nggak pake es kan jadi “u u oda” tak iya, dok re mak sampeyan ini!!!
P: ???!!!
=======================================================
Teka-teki Ala Pejabat
Try Sutrisno ingin belajar dari Lee Kuan Yew bagaimana caranya memilih menteri yang pintar. Maka dia datang ke Singapura diam-diam.
Bagaimana caranya memilih menteri yang pintar, Pak Lee? Gampang, jawab Lee, “Kita test saja kecerdasannya.” Dan tokoh Singapura itu pun memanggil perdana menterinya, Goh Chok Tong. Lee mengajukan satu pertanyaan yang harus dijawab Goh dengan cepat dan tepat.
“Hai, Chok Tong, misalkan orangtuamu punya anak tiga orang. Siapakah gerangan anak yang bukan kakakmu, dan bukan pula adikmu?” Goh menjawab tangkas, “Ya itu saya sendiri.”
Lee bertepuk tangan, “Angka 10 untuk Goh. Sebab itu dia kupilih!”
Try Sutrisno sangat terkesan kepada cara memilih gaya Lee Kuan Yew ini. Dia pulang ke Jakarta dan segera mau menguji Harmoko.
“Pak Harmoko,” kata Try, “Saya ingin menguji sampeyan. Ada satu pertanyaan yang harus sampeyan jawab: misalkan orang tua sampeyan punya anak tiga orang. Siapakah gerangan anak yang bukan kakak sampeyan, dan bukan pula adik sampeyan?”
Ternyata Harmoko tidak segera bisa menjawab. Tapi dia punya akal dan minta permisi sebentar ke luar ruangan, di mana menunggu Subrata. “Coba, Mas Brata,” katanya kepada bawahannya ini. “Misalkan orang tua situ punya anak tiga. Siapa gerangan anak yang bukan kakaknya situ dan bukan pula adiknya situ?”
Subrata berpikir lima menit, lalu menjawab: “Itu saya, Pak.”
Harmoko senang, dan masuk kembali ke ruang Try Sutrisno. Dia langsung maju, “Jadi tadi petunjuknya… eh, pertanyaannya bagaimana, Pak Try?”
Try dengan sabar mengulangi, “Orang tua sampeyan punya anak tiga orang. Siapakah anak yang bukan kakak sampeyan dan bukan adik sampeyan?”
Harmoko kali ini menjawab tangkas: “Ya, Subrata, Pak!”
Try ketawa geli, “Pak Harmoko ini gimana! Jawabnya yang benar, ya, Goh Chok Tong, dong!”